Tampilkan postingan dengan label Global Warning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Global Warning. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Desember 2009

Unilever Putus Pasokan Minyak Sawit Indonesia


Liputan6.com, Den Haag: Unilever memutuskan hubungan dengan pemasok minyak sawit Indonesia yang dituduh oleh organisasi lingkungan Greenpeace menghancurkan hutan hujan tropis. Demikian pernyataan perusahaan raksasa makanan dan kosmetika Inggris-Belanda itu seperti dilansir ANTARA, Sabtu (12/12).

"Greenpeace mengklaim berasal dari alam yang tidak dapat kami abaikan. Unilever berkomitmen untuk sumber daya berkelanjutan. Oleh karena itu, kami telah memberitahu PT Smart (bagian Grup Sinar Mas grup) bahwa kami tidak memiliki pilihan lain kecuali menangguhkan pembelian berjangka minyak kelapa sawit kami," kata Marc Engel, pejabat pengadaan utama Unilever dalam pernyataan seperti dikutip AFP, kemarin.

Unilever mengatakan tuduhan tersebut diterbitkan oleh Greenpeace pada pekan ini yang mengecam praktik lingkungan Sinar Mas. "Akibatnya Unilever telah memutuskan untuk segera mengambil tindakan," imbuh Engel

Unilever hanya akan mempertimbangkan kembali keputusan itu. Terutama, bila PT Smart menyediakan verifikasi bukti bahwa tak satu pun perkebunan mereka turut berperan dalam perusakan hutan bernilai konservasi tinggi dan perluasan ke lahan gambut.

PT Smart memasok Unilever dengan lima persen dari kebutuhan minyak kelapa sawit. Pihaknya menggunakan minyak kelapa dalam pembuatan margarin, sup, es krim dan saus serta produk-produk kecantikan.

Sementara itu, Indonesia bertekad meningkatkan produksi minyak sawit mentah (CPO) lebih dari dua kali lipat menjadi 40 juta ton pada 2020 melalui peningkatan hasil dan perluasan perkebunan. Namun, rencana tersebut ditentang kelompok-kelompok lingkungan. Mereka mengatakan hutan Indonesia penyerap karbon sangat penting dalam memerangi perubahan iklim dan sumber keanekaragaman hayati tidak tergantikan.(ANS)

UNILEVER LEPAS MINYAK KELAPA SAWIT 'SALAH'

Subject: Warta Berita - Radio Nederland, 11 Desember 2009
Date: Fri, 11 Dec 2009 15:30:01 +0000
From: Radio Nederland Berita list manager <owner-berita@ RNW.NL>

Perusahaan produk kebutuhan hidup Belanda-Inggris, Unilever menghentikan
pembelian minyak kelapa sawit dari Sinar Mas, sebuah grup Indonesia yang
mungkin terlibat dalam pembalakan liar hutan. Unilever mengambil
keputusan ini di bawah tekanan dari Greenpeace.

NRC Handelsblad Online melaporkan bahwa organisasi lingkungan hidup itu
menuduh perusahaan PT Smart, bagian dari Sinar Mas, selama
bertahun-tahun menebang hutan hujan tropis demi produksi minyak sawit
mereka. Diketahui bahwa lahan gambut juga dibakar dan digunakan untuk
perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan laporan terakhir tahun lalu,
Unilever mulai melakukan investigasinya sendiri, yang berujung pada
kesimpulan sama seperti Greenpeace.

Unilever adalah pengguna terbesar minyak kelapa sawit di dunia; 1,3 juta
ton per tahunnya. Sekitar 5 persen dari jumlah itu menurut Unilever
datang dari Sinar Mas. Kontrak Unilever dengan Sinar Mas bernilai lebih
dari 20 juta Euro. Menurut Unilever, ini satu-satunya kontrak mereka
dengan produsen minyak sawit yang akan dihentikan. Intinya adalah saat
ini Unilever terus mencari alternatif bagi kelapa sawit yang tidak
diketahui asal usulnya.

Sertifikasi

"Unilever telah menargetkan diri untuk mengambil semua produk minyak
sawit mulai tahun 2015 dari produksi berkelanjutan, " ujar juru bicara
mereka. "Bagi produk-produk Eropa hal ini akan diberlakukan lebih cepat,
mulai 2012." Sekarang 15 persen dari minyak sawit yang digunakan
Unilever bersertifikat, sekitar setengahnya merupakan minyak sawit dunia
"ramah lingkungan". NRC Handelsblad Online melaporkan.

Greenpeace memiliki keraguan cukup serius akan kualitas sertifikasi.
Menurut kelompok lingkungan hidup ini, perusahaan induk seringnya memang
mempunyai catatan yang baik, namun di samping itu perusahaan-perusaha an
cabang juga sering melanggar aturan lingkungan. PT Smart adalah anggota
Meja Bundar Minyak Sawit Berkelanjutan, sebuah organisasi yang mengaku
bertujuan memperjuangkan produksi minyak sawit berkelanjutan. Tetapi
perusahaan tersebut belum memiliki satupun perkebunan bersertifikat
lingkungan.

Minyak kelapa sawit selain digunakan untuk bahan produksi kebutuhan
hidup juga digunakan untuk produksi biofuel, dimana dalam beberapa tahun
terakhir produksinya telah meningkat secara signifikan. Hal ini
menyebabkan pesatnya penebangan hutan hujan tropis di negara-negara
seperti Malaysia dan Indonesia. Hutan- hutan tersebut mempunyai peran
penting dalam mengurangi gas rumah kaca karena mereka menyerap karbon
dioksida. Di Indonesia, dihentikannya penebangan hutan ini akan berguna
dalam mengurangi laju kepunahan habitat orangutan. Demikian tulis NRC
Handelsblad Online.

Senin, 12 Mei 2008

Es di Arktik Segera Lenyap Tahun 2008

Lingkungan Hidup
Es di Arktik Segera Lenyap Tahun 2008
Selasa, 13 Mei 2008 | 00:23 WIB
Tokyo, Senin - Es Arktik mencair dengan begitu cepat. Semua daerah yang
tercakup lapisan es di samudra bisa menyusut pada musim panas ini sampai
ke yang terkecil. Pelelehan es terjadi sejak 1978 ketika observasi lewat
satelit pertama dimulai.

”Lapisan-lapisan es di Samudra Arktik menyusut hingga akhir musim panas
2007,” kata para peneliti pada Japan Aerospace Exploration Agency dalam
sebuah laporan di situs internetnya, Senin (12/5).

Penuturan para peneliti Jepang itu serupa dengan yang disebutkan kelompok
lingkungan World Wildlife Fund (WWF) beberapa pekan lalu. WWF mengatakan,
pemanasan global menghantam Arktik lebih keras dan lebih cepat
dibandingkan dengan yang diperkirakan ilmuwan.

Hal ini menyebabkan terjadi perubahan tak terduga pada es, satwa,
atmosfer, dan samudra kawasan es di sekitar kutub utara. Menurut kelompok
lingkungan itu, perbedaan yang paling mencolok selama tiga tahun terakhir
antara lain sangat cepatnya penurunan es laut pada musim panas dan
menyusutnya secara cepat Lapisan Es Greenland.

”Kita melihat pemanasan suhu yang berlangsung cepat,” kata Ted Scambos,
ilmuwan utama pada National Snow and Ice Data Center (NSIDC) di Boulder,
Colorado, AS. ”Penjelasan yang terbaik adalah pemicunya adalah gas rumah
kaca,” katanya. Scambos tidak terlibat dalam laporan WWF itu.

Tuntut pengurangan emisi

”Pelestarian ekosistem Arktik memerlukan pengurangan emisi yang
menyebabkan perubahan iklim. Hal itu juga menuntut pengurangan kegiatan
manusia yang mengancam kawasan yang mencakup antara Kutub Utara dan daerah
hutan utara dari Eurasia dan Amerika Utara,” kata WWF.

”Selain emisi gas rumah kaca, faktor stres lain yang memengaruhi Arktik
adalah pembangunan instalasi minyak dan gas, pelayaran, dan kontaminasi
seperti jelaga,” kata Martin Sommerkorn, penasihat perubahan iklim pada
WWF dan penulis kajian itu. ”Pemerintah, dunia usaha, masyarakat lokal,
dan para aktivis lingkungan harus bekerja sama untuk mengelola ekosistem
kawasan Arktik itu dan membantu mereka beradaptasi,” katanya.

Lembaga PBB mengenai perubahan iklim, Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC), dalam laporannya tahun lalu mengatakan suhu di Arktik
meningkat sampai dua kali dari rata-rata kecepatan pemanasan global. Cuaca
lebih panas mencairkan es di laut dan di Greenland, yang mengandung air
untuk menaikkan permukaan laut global setinggi 7 meter.

Es laut menyusut pada bulan September 2007 menjadi kecil. Mencairnya es
laut tidak menaikkan permukaan air karena es itu sudah berada di samudra.
Namun, mencairnya pucuk-pucuk es seperti Greenland akan menyebabkan
peningkatan permukaan laut.

Akan tetapi, pencairan lapisan es secara keseluruhan diperkirakan tidak
akan terjadi pada abad ini, sebagaimana diutarakan IPCC. Badan ini
meramalkan permukaan laut akan naik 18 sampai 59 sentimeter sebelum 2100.

”Meningkatnya suhu di Arktik itu berpengaruh pada penurunan populasi
kelompok-kelompok beruang kutub,” menurut laporan WWF.

”Sebuah kajian memperkirakan bahwa sebelum pertengahan abad ini, kehidupan
beruang kutub akan terbatas pada ujung utara Kanada dan ujung utara
Greenland,” kata Sommerkorn. ”Yang akan kita lihat adalah penurunan
sekitar dua pertiga populasi beruang kutub.”

Dia memperingatkan juga kemungkinan perubahan di Arktik akan menciptakan
keadaan di mana suhu yang lebih panas semakin menimbulkan perubahan yang
membuat lebih banyak pemanasan lagi pemanasan global.

”Arktik adalah tempat yang memanas paling cepat,” kata Sommerkorn.
(Reuters/Bloomberg/ DI)

http://www.kompas. com/kompascetak. php/read/ xml/2008/ 05/13/00231972/ es.di.arktik. segera.lenyap. tahun.2008

Kelompok advokasi Riau

Kelompok advokasi Riau
Rebut Alat-alat Produksi !